Thursday, November 26, 2015

Event Report: Kuliah Umum Kebijakan dan Isu-isu Strategis Kebahasaan

Senin (26/10/15) lalu, Tiara ikut Kuliah Umum di Auditorium FPIPS UPI. Kuliah umum ini membahas tentang Kebijakan dan Isu-Isu Strategis Kebahasaan, disajikan oleh Prof. Dr. Mahsun, M.S. Beliau merupakan Kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Acara ini dilaksanakan untuk memperingati Bulan Bahasa.

Sebelum ke pembahasan, yuk kenali dulu lebih lanjut tentang beliau.


Prof. Dr. Mahsun, M.S., lahir di Jereweh-Sumbawa pada 25 September 1959.

Riwayat akademik:
Sarjana Sastra - Fakultas Sastra di Universitas Jember (1983)
Magister Sains di UGM dengan predikat cumlaude (1991)
Doktor dalam bidang Linguistik di UGM dengan predikat cumlaude (1994)

Beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap bidang Linguistik di Universitas Mataram pada 24 Januari 2009 dengan pidato pengukuhan yang berjudul: "Linguistik dan Studi tentang Kemanusiaan". Sejak 2006, beliau dipercaya menjadi koordinator (secara akademik) Program Penelitian Kekerabatan dan Pemetaan Bahasa-Bahasa di Indonesia. Pada tahun 2009, dengan ketekunan dan kerjasama bersama teman-temannya mampu mempersembahkan Peta Bahasa-Bahasa di Indonesia kepada Pemerintah (Presiden RI) pada Acara Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Gedung Sabuga, Bandung. Selain itu, bersama Prof. Dr. dr. Mulyanto, ahli Hepatika, Universitas Mataram, menjadi peneliti Ahli pada Program Penelitian "Bahasa Genom" yang dilaksanakan di Pusat bahasa selama satu tahun (2008-2009). Penelitian tersebut menggagas sebuah disiplin ilmu baru, yang merupakan Ilmu Antarbidang Genetika dan Linguistik, yang disebutnya dengan Genolinguistik. Disiplin ilmu dibukukan dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta (2010). 

Selengkapnya dapat dilihat disini.

Kebijakan dan Isu-isu Strategis Kebahasaan


Bahasa adalah salah satu aspek pengikat dalam sebuah bangsa. Di Indonesia, hal ini terbuktikan dengan adanya Sumpah Pemuda dalam salah satu butirnya yang telah diikrarkan pada 28 Oktober 1928 dan dalam UUD 1945.

Terdapat hubungan antara kebangsaan dan kebahasaan, berdampak munculnya isu-isu yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara mempengaruhi paradigma penetapan kebijakan penanganan masalah keragaman bahasa di Indonesia.

Ada dua tipe paradigma pembangunan bidang kebahasaan menurut Prof. Mahsun yang di elaborasi dari kebijakan yang dijalankan oleh institusi negara yang diberi otoritas untuk menangani masalah keanekaragaman bahasa di Indonesia, dalam hal ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, diantaranya:
  1. tipe yang berorientasi pada penekanan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dengan sasaran pembinaan pada pemakaian bahasa masyarakat;
  2. tipe yang berorientasi tidak hanya penekanan pada fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi tetapi juga bahasa sebagai identitas atau jati diri bangsa dengan sasaran pembinaan pada pemakaian bahasa masyarakat dan dunia pendidikan.

Identitas komunitas-komunitas dapat membentuk nasionalitas keindonesiaan (baca: kebangsaan). Dari sudut pandang itu, dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara majemuk, karena selain memiliki bahasa nasional dan bahasa negara (Bahasa Indonesia), juga terdapat ratusan bahasa lokal. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) yang diketuai Prof. Mahsun, telah melakukan pemetaaan bahasa-bahasa di Indonesia, dan mengidentifikasi sebanyak 546 bahasa local (pada Kongres Bahasa Nasional Kesembilan, 2008 yang lalu dilaporkan 442 bahasa local di Indonesia).

Apabila bahasa Indonesia dijadikan sebagai salah satu indikator utama dalam membentuk nasionalitas (negara bangsa) Indonesia, maka dapat dikatakan bahwa di seluruh wilayah Indonesia, belum sepenuhnya menampilkan wajah keindonesiaan.
Realitanya kita dapat menemukan maraknya penggunaan bahasa asing pada spanduk, iklan, nama badan/lembaga, dll. yang dipajang di ruang publik secara gamblang dan kasat mata. Kondisi tersebut mempengaruhi kebijakan penanganan masalah kebahasaan di Indonesia. Salah satunya dengan memfokuskan upaya-upaya untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi yang kegiatannya berupa penguatan daya ungkap serta penetapan kedudukan dan fungsi ketiga jenis bahasa tersebut.

Apakah sudah cukup penanganan masalah kebahasaan di Indonesia dengan berlandaskan pada paradigma tersebut  dapat menjamin keberadaan bahasa Indonesia dan bahasa lokal sebagai penyokong pilar NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika?

Ada tiga elemen yang dapat dipilih untuk menjadi landasan pembentukan nasionalitas negara bangsa, yaitu ras/suku, agama, dan bahasa (Anwar, 2008).

Terdapat 546 etnis di Indonesia (dalam hal ini ras), dan jika hal tersebut ditentukan sebagai penentu bentuk nasionalitas bangsa Indonesia, akan begitu sulit untuk mewujudkannya. Khususnya dalam memilih etnis mana yang sesuai untuk representasi keindonesiaan negara bangsa Indonesia.

Disisi lain, elemen agama hampir pernah dipilih namun gagal. Adanya pertentangan yang muncul karena Piagam Jakarta membuktikan betapa agama justru memudarkan semangat membangun keindonesiaan.

Elemen bahasa dalam membangun nasionalitas keindonesiaan telah dipilih dan dapat dikatakan merupakan pilihan yang tepat. Kenapa? Indonesia adalah salah satu bagian dari Nusantara. Salah satu bahasa yang digunakan adalah Bahasa Melayu. Menurut Prof Mahsun, Bahasa Melayu memiliki jumlah penutur yang relatif kecil dibandingkan dengan penutur bahasa Jawa. Disisi lain, bahasa Melayu tidak mengenal gradasi tingkat tutur yang mencerminkan gradasi struktur sosial yang ketat dan menyebar hampir di seluruh wilayah Nusantara. Bahasa melayu menjadi lingua franca bagi sebagian besar wilayah tutur bahasa local di Nusantara. Oleh karena hal tersebut, bahasa Indonesia diserap dari keberadaan bahasa Melayu menjadi pilihan sebuah bahasa nasional dan bahasa resmi negara, dilengkapi dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang representasi keanekaragaman bahasa loal.

Urgensi bahasa sebagai pondasi kebangsaan sekaligus menjadi dentitas atau jati diri bangsa dan suku bangsa Indonesia merupakan isu utama saat pembangunan identitas keindonesiaan.

Menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia
Butir ketiga sumpah pemuda mengandung makna bahwa dengan adanya bahasa nasional yang mempersatukan berbagai ragam etnis dengan keanekaragaman bahasa lokal sangat perlu dan dalam kondisi yang bersamaan keberadaan bahasa-bahasa local yang hidup dan berkembang dalam masyarakat penuturnya juga diakui keberadaannya.

Isu-isu terkait kebahasaan di Indonesia:

  • bahasa nasional dan bahasa resmi untuk mengungkapkan gagasan-gagasan Indonesia baru, maju, dan modern;
  • masih banyak rakyat Indonesia yang belum dapat berbahasa Indonesia;  
  • banyak bahasa lokal yang mulai ditinggalkan penuturnya; serta peran bahasa asing yang cukup dominan dalam pemakaian bahasa-bahasa di Indonesia telah memunculkan paradigma pembangunan bidang kebahasaan yang berorientasi pada:
    1. fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi, dan
    2. sasaran pembinaan bahasa pada pemakaian bahasa masyarakat. 
Kebijakan sebagai implikasi dari paradigma yang berorientasi pada fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi,
kebijakan untuk memokuskan perhatian pada penguatan daya ungkap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara termasuk sebagai bahasa ilmu pengetahuan, seperti :
  1. pengembangan leksikon (penambahan jumlah perbendaharaan kata melalui pengembangan perkamusan);
  2. pembakuan sistem gramatika (tata bahasa), pembakuan istilah terutama yang terkait dengan bidang ilmu pengetahuan (glosarium bidang ilmu), pengembangan tesaurus, dan standardisasi sistem tata tulis (ejaan).

Kebijakan sebagai implikasi dari paradigma yang berorientasi pada pembinaan bahasa yang mengambil objek sasaran masyarakat, bukan dunia pendidikan, yaitu:
  1. munculnya kegiatan yang berupa penyuluhan bahasa yang mengambil sasaran masyarakat, seperti siaran pembinaan bahasa melalui media elektronik (radio, TV) maupun media cetak;
  2. penertiban penggunaan bahasa di ruang publik, peningkatan kualitas bahasa insan media masa dll.
Terkait dengan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daera, kebijakan yang dilakukan melalui kajian berbagai aspek kebahasaan dan kesastraan, seperti:
  1. kajian pengidentifikasian jumlah bahasa di Indonesia;
  2. kajian identifikasi jenis sastra, dan
  3. deskripsi aspek tertentu dari bahasa-bahasa lokal.
Berdasarkan wujud kebijakan penanganan masalah kebahasaan (termasuk masalah kesastraan) sejak mulai munculnya institusi negara yang menangani masalah kebahasaan tahun 1947, pembangunan bidang kebahasaan dapat dipilah dalam tiga fase, yaitu:
  1. Fase pengenalan identitas kelembagaan (1947--1971)
  2. Fase penguatan kelembagaan, tugas, dan fungsi (1972 -- April 2012), dan
  3. Fase pemantapan tugas dan fungsi (Mei 2012 -- seterusnya).
Untuk bahasa lokal, telah dilakukan kajian yang bertujuan menyediakan pangkalan data dalam bentuk pemetaan bahasa-bahasa di Indonesia. Hingga 2012 telah diidentifikasi sejumlah 546 bahasa. Jumlah ini dipastikan   bertambah karena penelitian ini masih berlangsung. Selain itu, sampai tahun 2000 kajian bahasa dan sastra lokal mencapai masing-masing 874 judul dan 341 judul, serta 145 judul untuk penelitian bahasa Melayu. Penelitian terhadap bahasa dan sastra daerah tersebut lebih bersifat deskriptif yang terkait dengan kajian sistem bahasa dan sastranya.


Catatan-catatan lainnya:

Indonesia mempunyai nilai strategis. Indonesia dibangun dengan pondasi Bahasa.
Internasionalisasi bahasa Melayu: pengambilan identitas.
Better english tidak sama dengan better income.

Konsep bahasa yang jelas akan menghindarkan kita dari rorombeheun (terpecah belah) hahaha.
Krisis identitas = mudah dipengaruhi.
Diplomasi bahasa.
Bahasa itu menyerap.
Kebijakan: aturan dan sejarah pemerintah mengenai penggunaan bahasa kesatuan, Bahasa Indonesia.




Kuliahnya Bapak ini teh menggebu-gebu. Kelihatan banget beliau punya passion dan tekad yang kuat dalam menjalankan amanahnya. Slideshow yang ada sebenarnya sampai 150-an lebih, tapi dalam waktu dua jam, beliau bisa menyampaikan garis besar materinya secara efektif. Inspiring pisan euy!


Terima kasih, Bapak. Dari Bapak Tiara semakin bangga menjadi warga Indonesia. :)

Sunday, November 15, 2015

Event Report: Seminar Study in Hiroshima University

I was attending Seminar in my university.


TOP CAREER Study Abroad was coorperated with Hiroshima University providing useful information about education environment in Japan, such as the training system and scholarship from Hiroshima University.

Seminar Agenda were about Hiroshima University, Available Programs, Opportunities for International Students, Admission process, and Scholarships.

I have never thought to continue my study in Japan, so I was a bit curious to know more about study there, especially in Hiroshima University. For complete information we can visit their page at http://www.hiroshima-u.ac.jp

Hiroshima University as in their page, mantained the founding principle of "a single unfied university, free and pursuing peace", and with its 11 faculties and graduate schools, it has achieved significant development as one of the most distinguished research universities in Japan.

I was given advices and introduction by the representatives of Hiroshima University about the enroll ment for the new school year 2015-2016 with many interesting scholarships. They gave me informations about program that can be taken by us as international student. Beside that, they told me about the culture of international students there, facilities like dormitory, accommodation, and everything else about this university.

Klik! Kayaknya biar lebih jelas, kita pakai Indonesian aja ya..

Program yang diinformasikan ada tiga, yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Research Students


Siswa yang berharap untuk melakukan penelitian sebuah disiplin tertentu, baik pada tingkat sarjana atau pascasarjana, dapat mendaftar sebagai mahasiswa riset (Kenkyuusei). Pada program ini tidak disediakan gelar setelah risetnya selesai. Umumnya pendaftar adalah untuk mereka yang mempersiapkan diri masuk ke sekolah pascasarjana ke universitas dan meneliti subjeknya lebih rinci.

Prosedur penerimaan dan persyaratannya sedikit berbeda, tergantung dari kebijakan fakultas masing-masing. Bagi yang tertarik dianjurkan untuk menghubungi Student Support Group di fakultas yang tersedia. Daftar fakultasnya dapat dilihat disini.

Penyeleksian dilakukan berdasarkan dokumen yang diajukan. Penerimaan untuk mahasiswa non-degree mulai dibuka di setiap semester awal yaitu pada April-Oktober. Kenkyuusei dilakukan pada satu semester atau satu tahun, dan dapat diperpanjang tergantung kebutuhan penelitiannya.

Phoenix Leader Education Program


Program Phoenix adalah program pascasarjana yang disediakan untuk merespon bencana radiasi dan mengarahkan pemulihan secara langsung dengan solusi-solusi terbaiknya. Didasarkan pada kerapuhan sistem keselamatan radiasi dan teknologi penggunaan radiasi dalam bidang kedokteran, industri, dan pengembangan teknologi nuklir yang menimbulkan potensi ancaman terhadap terorisme nuklir karena adanya ketidakstabilan global. Sehingga, program ini bertujuan untuk mengembangkan pemimpin global yang mempunyai pengetahuan lintas disiplin yang bertekad dan mampu membuat penilaian untuk mengambil tindakan terbaik, dan kemampuan berperilaku juga dibutuhkan untuk melakukan aksi secara efektif dalam sebuah bencana radiologi dan melaksanakan pemulihan didasarkan pada filosofi atau teori yang jelas dan pengetahuan inovatif yang diambil dari berbagai ilmu pengetahuan. Mereka yang mampu melindungi kehidupan manusia, lingkungan, dan masyarakat dari bencana radiasi dan radioaktivitas.


Hiroshima University ini telah berpengalaman dan menorehkan banyak prestasi dalam aksinya untuk mendukung pemulihan dari bom atom, sehingga menetapkan program Radiation Disaster Recovery Studies, yang meliputi bidang akademik profesional termasuk Kedokteran, Ilmu Lingkungan, Teknik, Sosiologi, Pendidikan, dan Psikologi. Dalam pengembangannya, program ini akan memberikan kontribusi untuk membangun sebuah sistem kepemimpinan dan respon terhadap bencana radiasi yang melindungi keselamatan dan keamanan sebagai model abad ke-21.

Alhamdulillah masih kebagian brosurnya..



Program perkulihannya dispesialisasikan menjadi tiga jenis utama yaitu:

Radiation Disaster Medicine Course, mempesiapkan personil yang melindungi kehidupan manusia dari bencana radiasi. Program ini dilakukan selama 4 tahun yang terintegrasi dengan program PhD untuk lulusan dari sekolah profesi selama 6 tahun dalam bidang medis, kesehatan gigi (dental), farmasi, dan kedokteran hewan, dan master di bidang fisikawan medis.

Radioactivity Environment Protection Course, mempersiapkan personil yang melindungi lingkungan dari radioaktivitas. Program dilakukan selama 5 tahun, terintegrasi dengan program PhD untuk lulusan bachelor dan masters dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, agrikultur, ilmu pengetahuan sosial.

Radioactivity Social Recovery Course, mempersiapkan personil yang melindungi masyarakat (human societyi) dari bencana radiaktivitas. Program yang dilakukan selama 5 tahun terintegrasi dengan program PhD untuk lulusan bachelor dan masters dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, agrikultur, ilmu pengetahuan sosial.



Program Taoyaka merupakan program pascasarjana untuk menghasilkan ahli yang menjadi pemimpin global yang sukses di bidang yangg luas dalam industri, akademisi dan pemerintah dengan perspektif yang luas dan orisinal. Pendidikannya dilakukan selama 5 tahun, 2 tahun untuk program master dilanjutkan dengan program doktoral selama 3 tahun.

Latar belakang disediakannya program ini adalah melihat keadaan desa di dunia yang masih belum mempunyai kualitas kehidupan yang layak, dari aspek pelayanan pendidikan, kesehatan, konflik tak berujung atas hak menggunakan air atau tanah, dan ketersedian sumber daya alam. Sementara di Jepang, masyarakat pedesaan marginal tidak memiliki akses yang memadai terhadap layanan pendidikan atau kesehatan, dan masalah transportasi sehari-hari di daerah pulau dan kaki pegunungan yang tidak mempunyai moda transportasi orang dan barang.

Pengaruh negara maju pada megara berkembang bisa dilihat dari banyaknya masyarakat pedesaan yang sudah menggunakan ponsel, penggunaan sel surya, penggunaan lampu LED yang terus menerus yang merubah suasana malam yang gelap di negara berkembang berubah menjadi malam yang penuh dengan konsumsi energi. Dari hasil penelitian (state of the art) dan perkembangan teknologi di negara maju dan masyarakat yang mendukung saat ini berpotensi untuk mebuat perubahan tidak hanya di negara maju tapi juga pada masyarakat di negara berkembang. Melakukan sebuah kerjasama dengan daerah yang menghadapi problematika tersebut, mengembangkan proposal berdasarkan kebutuhan mereka, meluaskan potensi sebagai hasil penelitian teknologi dan ilmu pengetahuan, untuk dilaksanakan di tempat sehingga lebih efektif mengarahkan masyarakat kepada arah yang benar. Hal ini disebut Onsite Reverse Innovation.

Onsite Reverse Innovation berarti suatu sarana dan usaha untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh daerah tertinggal berdasarkan lingkungan dan budaya masyarakat yang telah berkembang dengan berbagai cara dari waktu ke waktu dan dari ruang ke ruang. Daur ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipimpin oleh budaya dari daerahnya merupakan jalan kedepan untuk membuat suatu masyarakat yang felksibel, abadi, dan damai hidup berdampingan.

Oleh karenanya, program ini akan melatih inovator-inovator dalam tiga jenis berbeda yang telah mencapai state of the art dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan menerapkan dan melaksanakannya di tempat langsung (onsite). Inovator ini akan disebut sebagai multicultural coexistence instigators, akan bertindak sebagai pemimpin dalam menciptakan masyarakat yang ramah untuk mengatasi perbedaan budaya, inovasi teknis dan sosial secara langsung (onsite), dan berkontribusi pada penyelesaian masalah mengenai kekurangan atau problematika di masyarakat daerah tertinggal.

Inovator akan dibedakan berdasarkan jenis program perkuliahan yang diambil, yaitu Cultural Creation Innovators, Technical Creation Innovators, Social Implementation Innovators.

Cultural Creation Innovators

Dilatih untuk menciptakan budaya beradaptasi pada perubahan sosial dan lingkungan sejalan dengan inovasi teknis. Edukator yang dapat melindungi dan memelihara budaya dan merancang perkembangan daerah. Jurnalis dan staf LSM internasional yang berkomunikasi identitas dari daerah tersebut melalui media daerah setempat, dan lainnya.

Technical Creation Innovators

Dilatih untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan permasalahan dalam lingkungan dan budaya masyarakat setempat di daerah terpencil dan bermasalah. Kerjasama insinyur yang menciptakan teknologi rendah biaya yang dapat berfungsi di daerah dengan kondisi berkekurangan. Ahli transfer teknologi dan pengusaha yang mengembangankan konsep teknologi yang sesuai dengan nilai-nilai yang beragam dan perubahan lingkungan.

Social Implementation Innovators.

Dilatih untuk mencapai pelaksanaan yang seimbang pada masyarakat dengan budaya yang berbeda dan tekmologi ilmu pengetahuan baru yang telah dibuat. Pemerintah dan konsultan pengembangan yang mengidentifikasi solusi-solusi onsite yang optimal dibawah kondisi sulit. Pekerja pemerintah, karyawan pemeridah daerah dan kerjasama karyawan organisasi internasional yang bekerja untuk menggapai konsensus di antara pemangku kepentingan dengan nilai-nilai yang berbeda.

International Student


Hingga Mei 2015, mahasiswa internasional yang terdaftar di Universitas Hiroshima ini datang dari 66 negara di dunia. Untuk mahasiswa Asia Tenggara jumlah mahasiswa paling banyak datang dari Indonesia, lho! Ada sekitar 72 mahasiswa yang tersebar di berbagai fakultas.

Alhamdulillah dapat brosur ini..



Konten di dalam brosur bisa didapatkan disini.


Brosur ini memuat informasi tentang Univertitas Hiroshima yaitu:

  • Fakultas dan departemen yang tersedia pada level sarjana dan pascasarjana;
  • Persiapan untuk melanjutkan studi disana;
  • Informasi umum untuk program-program sarjana;
  • Informasi umum untuk program-program pascasarjana;
  • Informasi umum untuk program non-degree/research student (Kenkyuusei);
  • Status penduduk disana;
  • Sistem beasiswa untuk mahasiswa internasional;
  • Kehidupan di Universitas Hiroshima;
  • Kontak informasi.



Terus daftarnya gimana itu, teh? Cek disini.
Atau,
Yuk daftar ke TOP CAREER! Dengan daftar di website tersebut, nanti kita diberi informasi tentang universitas, program studi, dan beasiswa yang pas untuk kita.


Kalau Tiara sih udah subscribe, kalau kamu? Setelah subscribe nanti setiap ada informasi tertentu kita akan dikirim email gitu. Nah email yang terakhir setelah Tiara ikut seminar Universitas Hiroshima, dikirim deadline pendaftaran setiap programnya. Bermanfaat benget, loh!

Beasiswa


Ada banyaaaaak bingit jenis beasiswa yang bisa kita dapat buat kuliah di Universitas Hiroshima yang dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  • Beasiswa dari pemerintah Jepang (MEXT), yang bisa didapat jika kita direkomendasikan oleh kedutaan Jepang dan Universitas kita. 
  • Beasiswa dari yayasan-yayasan tertentu dan peminatnya yang berhasil diterima disana sebanyak 878 mandiri (self-funded) 205 diantaranya mendapatkan beasiswa dari jenis ini. Untuk lebih detailnya tentang beasiswa jenis ini bisa dilihat di Japan Student Services Organization (JASSO)

Masih banyak lagi informasi yang ingin dibagikan. In shaa Alloh di postingan selanjutnya. Atau bisa langsung ditanya disini ya..

Terima kasih.

Friday, October 23, 2015

Quraan of The Day

Katakanlah, "Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu mencari kebenaran karena Alloh (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri*; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras." 
(Q.S. Saba' ayat 46)

* Berdua-dua atau sendiri-sendiri maksudnya dalam mencari kebenaran dapat dilakukan sendiri-sendiri atau berama-ramai.

Tuesday, October 20, 2015

Susu Kedelai oh Susu Kedelai

Susu Kedelai. Pernah dengar, kan?
I'm a soymilk enthusiast. Dimulai dulu waktu SMA, Ibu teman saya pernah nyuguhin susu kedelai yang enyak bingits. Pas banget di lidah saya yang kurang senang dengan rasa makanan atau minuman yang terlalu kuat (kecuali asem jawa hehe), and yes, Soymilk is the answer. Susunya gurih, manisnya cukup, dan ringan di tenggorokan. Sejak saat itu, saya jadi rutin minum susu kedelai setiap pagi. Susu kedelai ini juga bisa delivery, masih dalam keadaan fresh from the oven. Efeknya nyaman banget ke badan, jadi lebih semangat dan ga gampang ngantuk. Sampai-sampai teman sekelas ikut pesan juga, jadi distributor dadakan gitu deh saya. Hahaha

It was a good memory with it.
Sampai suatu saat, saya harus ke Bandung untuk melanjutkan kuliah.

Tahun pertama hingga tahun kedua, kecanduan saya terhadap susu kedelai beralih pada susu kedelai kemasan. Yaaaa.. sedih sih, karena kandungannya tidak sebaik yang saya suka beli di kampung halaman. Kakak saya bahkan melarang untuk mengkonsumsi minuman tersebut. But, I really can't stand for it. Tahun ketiga kuliah, saya pindah kosan. Di lingkungan baru ini udah kaya pasar kuliner setiap malam, dari mulai camilan-camilan gaul sampai kuliner tradisional juga ada disini. Sampai suatu saat, ng....

Bapak Eko dan dagangan susu kedelainya.

It is a treasure! Alhamdulillah..
Saya dipertemukan dengan Bapak ini, yang menjajakan susu kedelai murni. Hmm.. Awalnya saya yaaa biasa aja, beli-lalu-pergi gitu. Tapi karena keseringan beli dan pas banget ada challenge dari IHBlogger, saya beranikan diri untuk menyapa Bapak ini. Canggung sih, soalnya saya pemalu (heuheu), tapi ternyata beliau asik juga orangnya.

Beliau bernama Bapak Eko. Awalnya, beliau bekerja di sebuah pabrik susu kedelai besar di Lampung, kampung halamannya. Beliau banyak belajar disana tentang cara pengolahan dan pengemasan produk. Sebelumnya, sebagai persyaratan bekerja, Bapak Eko telah melalui pendidikan dan pelatihan dari Dinas Kesehatan terlebih dahulu. Selain itu, beliau juga pernah bekerja di salah satu perusahaan periklanan di Bandung. Dari pengalaman bekerja tersebut, beliau belajar tentang cara manajemen perusahaan dan menganalisis Kota Bandung yang menjadi tempat tinggal barunya.

Kota Bandung itu surga bagi para pengusaha kuliner dan penikmatnya. Saya berpikir untuk membuat produk yang berbeda tapi dibutuhkan oleh konsumen. 

Hingga pada tahun 2009, beliau memutuskan untuk membuat satu produk susu kedelai dengan kualitas yang lebih baik hasil racikan tangan beliau sendiri. Proses meraciknya membutuhkan waktu selama satu tahun, sehingga pada tahun 2010 penjualannya baru bisa dimulai.


Beliau menggunakan kedelai kelas 1 yang berasal dari Jawa Timur. Kedelai tersebut merupakan kedelai dengan kualitas terbaik di Indonesia. Beliau menghindari penggunaan kedelai impor yang beredar di Indonesia, karena kedelai tersebut menurut Bapak Eko sudah tidak alami lagi pertumbuhannya. Banyak menggunakan zat kimia. Untuk pemanis susu kedelainya, ditambahkan gula tebu, asli dari Lampung.

Terbukti. Susu kedelai Bapak Eko ini tanpa menggunakan zat kimia. Jadi, waktu itu pertama kali saya beli, kelupaan diminum. Besoknya, bungkusnya mengembung gitu, kayak mau meledak dan rasanya juga sudah tidak enak. Kalau orang sunda bilangnya, tos haseum. :)) Lalu jika dibandingkan dengan produk susu kedelai kemasan yang pernah saya beli (pernah coba sampai lima produk yang berbeda), beda banget. Biasanya susu kedelai kemasan menyisakan keanehan di tenggorokan, apa ya namanya, hmm.. kaya ada lendir nyangkut gitu di tenggorokan. Beda dengan susu kedelai yang biasa saya konsumsi waktu SMA, susunya ringan ditenggorokan, sama kaya produknya Bapak Eko. 

Kok beda gitu, ya?

Menurut Bapak Eko, hal itu disebabkan karena adanya penambahan pengawet yaitu Natrium benzoat dan pemanis buatan yaitu Sodium glutamat. Juga karena adanya penambahan perisa kedelai, maksudnya agar dengan kedelai yang sedikit menghasilkan rasa yang kuat. Oooh.. Proses pembuatan juga harus higienis karena dapat mempengaruhi rasa yang dihasilkan. Mungkin karena proses pembuatan yang berbeda, susu kedelai waktu SMA itu dia lebih creamy dan disajikan hangat. Kalau susu kedelai Bapak Eko disajikan dingin, dia lebih cair. Oooh.. (lagi)

Bermodalkan 10 juta rupiah, Bapak Eko mulai membeli mesinnya, mengolah bahan dasar, pengemasan, hingga penjualan beliau lakukan sendirian. Setiap pagi, dari pukul 06.00 hingga pukul 01.00 siang dengan membawa sekitar 50-100 bungkus susu kedelai menggunakan sepeda motor, beliau menjajakan produknya di Pasar Cibago, Bandung. Setelah itu, pulang untuk restock dan beristirahat. Mulai kembali pukul 04.00 sore hingga pukul 10.00 malam, beliau berjualan di Jalan Gegerkalong Girang (dekat Bebek Goreng Komar). Setelah itu pulang ke rumah, istirahat, dan mulai membuat susu kedelai sekitar pukul 04.00 pagi.

Harga perbungkusnya 3000 rupiah, kalau beli dua jadi 5000 rupiah. Satu bungkus susu kedelai berisi sekitar 150 ml. Tersedia dengan rasa original tawar, original manis, stroberi, melon, dan moka. Disantap dingin lebih nikmat. Yummyyy.. 
Bapak juga menerima pesanan atau tawaran bekerja sama, bisa dihubungi di nomor 0822-1666-5827.

Saya bersyukur saya mempunyai istri yang mau menerima dan mendukung saya. Oleh karenanya saya bisa bertahan selama ini.

Sweet! Ini membuat saya sadar bahwa menjadi seorang istri harus sangat-sangat-sangat setrong. No matter the world is ruined, seorang istri harus setia mendukung suaminya. Karena, kesuksesan seorang suami tergantung dari istrinya. I wonder how his wife looks like, she must be really strong one. Bapak Eko tinggal di Sariwangi, Ciwaruga, Bandung dengan istrinya. Pernikahan beliau diberikan karunia lima orang anak, tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki. Bapak Eko mempunyai hobi yang sama lhoo seperti saya. Beliau suka olahraga. Kalau saya suka lari, voli, dan berenang, beliau suka bela diri tapak suci dan bulu tangkis.

Targetnya untuk mengembangkan usaha saya ini, saya harap mempunyai manajemen yang baik; sepuluh orang membawa seratus bungkus susu kedelai per hari.

Mari kita aminkan bersama, Aamiin ya Alloh ya Robbal 'alamin.

Dari sini, saya makin jatuh cinta sama susu kedelai. Super memang minuman dari tumbuhan satu ini. Saya jadi tambah mengerti tentang pengolahan susu kedelai, manfaatnya, dan tahu susu kedelai dengan kualitas yang baik. Kerinduan saya pada susu kedelai di kampung halaman terobati oleh susu kedelainya Bapak Eko ini. I finally can consume soymilk everyday, without worrying anymore. Alhamdulillah..

Terima kasih, Bapak Eko. :)

Tuesday, September 22, 2015

Quraan of The Day

To the point.
I'm reading an article right now, referenced from my course with Professor. Tim White from Nanyang Technological University about Beauty, Form, and Function: An Exploration of Symmetry.

This is the article.

Then, i found a paragraph,

"Many scientists suspect that there may be more natural symmetries waiting to be discovered. Some think that the so-far elusive "Theory of Everything," which physicists have spent decades searching for, will contain some type of universal symmetry that fully explains and knits all the known laws of physics together." (Than, 2005)

It's remembering me to some verses in Qur'an,


"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah."
Q.S. Adz-Dzariyat: 49


"Dan yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan."
Q.S. Az-Zukhruf : 12


"Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutup malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."

Q.S. Ar-Ra’d: 3

Let's think about it.

Wednesday, September 16, 2015

What comes easy won't last. What lasts won't come easy.
Heidy Kalalo